ILP Center Building 2nd Floor Suite 219 Jl. Raya Pasar Minggu No. 39A Jakarta Selatan

Corporate Communication Series

CSR Promoting Conflict Prevention

Pencegahan Konflik Sosial Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat

(sebuah pendekatan program CSR yang berkelanjutan)

Konflik sosial kerap kali terjadi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, bahkan sering kali menimbulkan gangguan pada operasional perusahaan atau bisa menimbulkan korban harta benda dan juga jiwa. Berbagai faktor menjadi akar masalah terjadinya konflik sosial, oleh karena itu pendekatan yang diperlukan adalah pendekatan menyeluruh, partisipatif dan berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan investasi perusahaan. Hal ini merupakan tugas dari perusahaan untuk mengurangi dan menangani potensi konflik yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan  melalui salah satunya pembuatan program pemberdayaan masyarakat (program CSR) yang efektif, efisien dalam kerangka kehidupan masyarakat yang berkelanjutan.

Tujuan Pelatihan

  • Mampu menganalisa kerentanan, potensi dan sumber konflik antara  masyarakat-perusahaan
  • Mampu menyusun konsep – konsep penyusunan program peberdayaan masyarakat guna mitigasi konflik
  • Menyusun program pemberdayaan masyarakat guna mempromosikan mitigasi konflik
  • Menyusun strategi program CSR pencegahan konflik yang tengah dihadapi oleh perusahaan

Outline Materi

Meteri pelatihan adalah sebagai berikut :

Analisis Resiko Sosial (Social risk)

  • Paradigma perubahan mendasar sistem keamanan perusahaan pasca reformasi
  • Pengenalan sistem sosial dan pendekatan ke  masyarakat
  • Mengidentifikasikan  kerentanan – kerentanan di masyarakat
  • Pemetaan potensi konflik pada tiap tahapan operasional perusahaan
  • Studi kasus 1 : kerentanan dan konflik perusahaan – masyarakat di wilayah lepas pantai

Model – model program pemberdayaan masyarakat

  • Teknik – teknik participatif menyusun program pemberdayaan
  • PRA (Participatory Rural Appraisal)
  • RRA (Rural Rapid Appraisal)
  • Analisis kepentingan  dan penerima manfaat
  • Penyusunan program pemberdayaan masyarakat untuk mitigasi konflik
  • Study kasus 2 : program pemberdayaan di masyarakat pesisir
  • Study kasus 3 : program pemberdayaan income generation
  • Study kasus 4: program pemberdayaan berbasiskan konservasi

Monitoring  program pemberdayaan masyarakat

  • Management program berbasiskan hasil
  • Penyusunan Grievance Mechanism
  • Best practice 5: Issues monitoring – SMART monitoring tools
  • Best practice 6: Radio Komunitas – sebagai media resolusi konflik

Sesi Tambahan

choaching clinic dilakukan secara peer to peer, dimana masalah yang akan dibahas adalah masalah riil yang dihadapi oleh perusahaan yang berhubungan dengan potensi konflik yang terjadi. Alokasi waktu ini diberikan pada peserta yang berminat dan diharapkan dari proses ini menghasikan langkah strategis menangani permasalahan di perusahaan

Durasi Pelatihan

Pelatihan dilaksanakan selama dua hari efektif .

Facilitator

I Putu Widhiantara Sri Bangun
Putu Widhiantara; berpengalaman lebih dari 16 tahun dalam bidang pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat, komunikasi perubahan prilaku dan mitigasi konflik di tingkat regional dan nasional. Pengalaman kerja dengan banyak lembaga internasional seperti : USAID, FAO, UNICEF, UNDP – CPRU (Conflict Prevention and Recovery Unit), ILO, IOM, SAFE-USAID, AED, VSO (program regional : Indonesia,Philipine dan Thailand). Saat ini bekerja sebagai social reseacher pada dua program Bank Dunia dan juga sebagai konsultan integrated risk management di beberapa perusahan ekstratif industri.
Training-CSR-Promoting-Conflict-Prevention-yogya

Crisis Communication Management And Media Interview Simulation

Introduction

It is understood that any company, industrial/manufacturing enterprise should be well prepared in managing properly any kind of emergency that threatens to harm the company and its organization. Risk of crisis may happen at any time. Therefore, each business unit in the industry must have an emergency plan in place and each staff must be well trained to possess the ability to handle effectively an emergency.

The training materials not only contain academic theories for deeper understanding on what and how to be prepared facing a crisis, as it also open-up legendaric case studies and   practical knowledge on basic communication. Most importantly a full training on facing the “severe” media interviews, with TV journalists shooting camera, is part of a special training for managers/staff personnels as a simulation training is provided.

Training Method

  1. Interactive presentation to achieve comprehensive understanding and motivation on Crisis Management & Communication Planning. Risk Management and Damage Control based on Public Relations aspects will be discussed and noted.
  2. Hands-on simulation in Media handling – staff will have to practice in Media Relations and especially in accurately and timely giving information. Communication technique in answering questions to “investigative” journalists will be drilled.

Topics for Discussions

  1. Risk, Crisis and Issues. Risk of the industry handling flameble materials: fire; other risks and issues which may damage company’s reputation
  2. Be prepared! Facing emergency of fire explosion. Safeguard employees and the community.
  3. Practical guide lines in Media Relations: Preparing the News Release, setting up the Crisis Center; the 5 W + 1 H Concept
  4. Internal communication preparedness: to the employees, to staff’s family members as well as close business suplyers and users/consumers. External relations: to the stakeholders including the authority (police, hospital, fire fighters office), to Trade/Industry Association, to the neighbouring factories, to NGOs
  5. Restoring normal operations as quickly as possible: Communication Strategy in Damage Control
  6. Hands-on exercises on facing the Media will be video taped and re-run as learning process.

Facilitator

Drs. Ludwig Suparmo, M.Si

Beliau memulai kariernya dari bawah, ketika berumur 20 tahun, sebagai detailer/promosi obat secara ilmiah, kemudian meningkat ke jenjang supervisor, field manager, commercial officer, manager periklanan dan manager komunikasi. Sejak 20 tahun terakhir menjadi konsultan komunikasi dan manajemen, trainer dan pengajar di beberapa institusi perguruan tinggi. Mendapat pendidikan dan pelatihan manajemen di Manila, Philippines,  Presentation Skills dan Negotiation Skills di London, United Kingdom. Setelah terjun sebagai praktisi langsung, menyempatkan diri di hari tuanya menyelesaikan pendidikan Master (S2) dalam waktu 18 bulan dan lulus sebagai  peserta terbaik.

Training-Crisis-Communication-Management-And-Media-Interview-Simulation-yogya

Corporate Culture and Business Ethics

Pada saat ini topik tentang pengembangan budaya etika menjadi pembicaraan di kalangan para pemimpin perusahaan kelas dunia baik di Amerika maupun Eropa. Tujuan pengembangan budaya etika adalah meningkatkan kualitas kecerdasan emosional, spiritual dan budaya yang diperlukan oleh setiap pemimpin bisnis sehingga dapat memperlancar proses pengelolaan bisnis yang digeluti. Oleh karena itu mereka meyakini bahwa hanya budaya etikalah yang dapat menyelamatkan bisnis mereka di masa depan. Hal ini muncul dari hikmah atas peristiwa krisis ekonomi dan keuangan dunia yang berawal di Amerika dimana penyebab utama dari peristiwa tersebut adalah tidak berjalannya etika bisnis dengan dukungan manajemen risiko yang kuat. Para ahli manajemen beranggapan bahwa krisis terjadi akibat beberapa perusahaan tidak menerapkan prinsip-prinsip GCG dengan baik dan benar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar dari peristiwa krisis itulah maka pada saat ini para pemain bisnis global semakin menyadari pentingnya mengembangkan budaya etika berbasis prinsip-prinsip GCG dan nilai-nilai perusahaan.

Dengan dikembangkannya dan dimanfaatkannya budaya etika oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia terkemuka di Amerika dan Eropa oleh para pimpinan perusahaan, maka pada saat ini di belahan dunia lain banyak perusahaan yang tertarik untuk mengembangkan budaya etika yang dianggap sebagai penyelamat bisnis mereka di masa depan. Gejala ini sangat menarik, mengingat penerapan GCG dan nilai-nilai perusahaan dalam dunia bisnis masih merupakan merupakan hal yang baru, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia sendiri tampaknya belum terdengar adanya upaya pengembangan budaya etika. Namun seperti biasanya apabila di luar negeri upaya tersebut semakin santer terdengar baru orang-orang Indonesia memikirkan untuk mengembangkannya. Penulis memperkirakan sekitar lima sampai septuluh tahun lagi budaya etika baru akan menjadi suatu isu atau trend dalam bidang manajemen di Indonesia. Mengapa? Karena di masa depan akan banyak perusahaan di Indonesia yang berniat menjadi perusahaan kelas dunia.

Tujuan Pelatihan

  • Memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengembangkan budaya perusahaan kepada peserta pelatihan
  • Memberikan rekomendasi dalam pembuatan kebijakan pengembangan budaya perusahaan dan pemecahan masalah yang terkait dengan upaya cara pengembangan budaya perusahaan

Metode Pelatihan

  • Ceramah
  • Diskusi
  • Games
  • Tugas Individual dan Kelompok

Peserta

Untuk dapat membangun budaya etika yang adaptif selayaknya yang mengikuti pelatihan ini adalah semua pimpinan dalam organisasi serta para konsultan dan akademisi yang berperan dalam pemecahan masalah organisasi dan perusahaan.

Facilitator

Hendra Kusnoto

Hendra Kusnoto adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1984. Pada tahun 1986 ia melanjutkan studi di Fakultas Pasca Sarjana UGMjurusanPsikologiPerkembangan. Di tahunitu pula Sdr. Hendra Kusnoto bergabung dengan Universitas Persada Indonesia “YAI’ dan mendirikan Fakultas Psikologi swasta pertama di Indonesia. Ia juga sempat menjadi dekan dan mengajar di fakultas itu pada tahun 1987 – 1989. Pada masa itu beliau termasuk dekan termuda di Indonesia. Selama mengajar, Sdr. Hendra Kusnoto mempelajari ilmu manajemen bisnis secara otodidak. Pada tahun 1989 yang bersangkutan bekerja di PT Antam. Di perusahaan ini beliau aktif dalam bidang sumber daya manusia. Pada tahun 1996 beliau studi di bidangManagementand Business Administration di Melbourne University, Australiadanbeliausempatmengikuti program magangdanbekerja di perusahaanterkemuka Australia (Broken Hill Propriety/BHP). Sekembalinya dari studi di Australia Sdr.Hendra Kusnoto menulis buku berdasarkan hasil penelitian di perusahaan-perusahaan yang ada di Australia. Buku tersebut berjudul “Praktek Manajemen Terbaik di Dunia” dan diterbitkan oleh Gramediapadatahun 2001.

Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam bidang manajemen bisnis dan sumber daya manusia, pada tahun 1996 Sdr. Hendra Kusnoto ditunjuk sebagai salah satu anggota tim IPO (inital public offering) untuk mempersiapkan PT Antam menjadi perusahaan publik. Sejak saat itu beliau selalu terlibat dalam tim strategis baik dalam bidang pengembangan usaha maupun sumber daya manusia. Karena hobi belajarnya tidak pernah berhenti, beliau mempelajari manajemen perubahan baik secara otodidak maupun pelatihan-pelatihan di dalam dan luar negeri. Walaupun Sdr. Hendra Kusnoto pernah studi di negeri kangguru, namun beliau merasa belum puas, sehingga pada tahun 1998 beliau belajar mengenai manajemen bisnis internasional di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta.

Pada tahun 2000, berbekal pengetahuan dan keterampilan dalam bidang manajemen bisnis, sumber daya manusia dan manajemen perubahan beliau dipercaya oleh pimpinan PT Antam Tbk untuk memimpin tim manajemen perubahan untuk memantapkan posisi PT Antam Tbk sebagai perusahaan yang mampu menjadi perusahaan kelas dunia. Untuk tujuan tersebut beliau mempelajari balanced scorecard langsung dari penciptanya, yaitu Dr. David Norton. Perannya dalam bidang manajemen perubahan tersebut turut mampu menjadikan PT Antam Tbk menjadi perusahaan terkemuka.

Sejak tahun 2006 Sdr. Hendra Kusnoto bergabung dengan beberapa perusahaan konsultan yang bergerak dalam bidang manajemen strategis, manajemen perubahan, good corporate governance dan manajemen sumber daya manusia, disamping itu beliau secara pribadi juga berperan sebagai advisor yang memberikan pelatihan dan konsultasi di beberapa perusahaan baik nasional maupun asing. Perusahaan-perusahaan yang  pernah ditangani a.l. Jasa Marga, Jasa Raharja, PGN, PTPN IX, Swedish Match dan lain-lain. Untuk menjalankan tugas tersebut beliau memperoleh ijin khusus dari pimpinan perusahaan. Di PT Antam Tbk sendiri, akhir-akhir ini beliau ditunjuk sebagai advisor direksi dalam bidang good corporate governance, manajemen transformasi dan sumber daya manusia.

Training-Sinopsis-Corporate-Culture-and-Business-Ethics-yogya

Community Based Conflict Untuk Ekstratif Industry

Community Based Security Management pada ekstratif industri

Community Based Security Management training bertujuan untuk membentuk hubungan yang selaras antara perusahan dan masyarakat dengan mengurangi dan menangani potensi konflik/gangguan yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan melalui pendekatan yang terpadu  dan berkelanjutan. Setelah mengikuti pelatihan ini maka peserta akan dapat:

  • Memahami komponen – komponen pembentukan community based security management
  • Memetakan social risk yang berhubungan dengan tahapan – tahapan  operasional perusahaan
  • Bekerjasama dengan stakeholder yang berperngaruh pada penanganan konflik/gangguan di masyarakat
  • menyusun  rencana mitigasi konflik terpadu

Outline Materi

Komponen : 1. Social risk analysis

  • Fenomena mendasar pergeseran tugas dan peran security
  • Pengenalan sistem social dan pendekatan ke  masyarakat
  • Mengidentifikasikan  kerentanan – kerentanan di masyarakat
  • Study paper : Prespektif konflik perusahaan – masyarakat pada ekstratif industri
  • Studi kasus 1 : kerentanan dan konflik perusahaan – masyarakat di wilayah lepas pantai
  • Teori konflik sosial
  • Pemetaan potensi konflik pada tiap tahapan operasional perusahaan

Komponen : 2 . Prinsip – prinsip dan pendekatan community based security management

  • Tujuan, prinsip dan prosedur
  • Kajian community based security management dan UU Object Vital Nasional
  • Best practices  1 : Pengelolaan konflik  dengan nelayan pada operasional offshore
  • Best practices  2 : Pendekatan sosial dalam konflik  lahan pada ekstraktif industry

Komponen : 3 . Mekanisme dan struktur community based security management

  • Model – model community based security management
  • Best practice 3: Community based surveillance
  • Melakukan pemetaan  dan analysis stakeholder
  • Best practice 4: Issues monitoring – SMART monitoring tools
  • Best practice 5: Radio Komunitas
  • Best practice 6: Negosiasi persuasif

Komponen : 4 . Koordinasi dan perencanaan mitigasi konflik

  • Tools perhitungan finansial mitigasi konflik (model IFC)
  • Penyusunan Grievance Mechanism
  • Perencanaan Mitigasi konflik
  • Bedah kasus : Potensi gangguan keamanan saat diberlakukan UU Desa Nomor 6 Tahun 2014

Durasi Pelatihan

Pelatihan dilaksanakan selama dua hari efektif .

Facilitator

I Putu Widhiantara Sri Bangun
Putu Widhiantara; berpengalaman lebih dari 16 tahun dalam bidang pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat, komunikasi perubahan prilaku dan mitigasi konflik di tingkat regional dan nasional. Pengalaman kerja dengan banyak lembaga internasional seperti : USAID, FAO, UNICEF, UNDP – CPRU (Conflict Prevention and Recovery Unit), ILO, IOM, SAFE-USAID, AED, VSO (program regional : Indonesia,Philipine dan Thailand). Saat ini bekerja sebagai social reseacher pada dua program Bank Dunia dan juga sebagai konsultan integrated risk management di beberapa perusahan ekstratif industri.
Training-Community-Based-Conflict-Untuk-Ekstratif-Industry-yogya

Best Practice : Corporate Event Management

Corporate Event merupakan sebuah program yang dilakukan suatu perusahaan secara terencana untuk suatu tujuan, baik untuk tujuan promosi, peringatan, penghargaan dan lainnya. Namun berbeda dengan kegiatan yang spontan, Corporate Event dilakukan berdasarkan rencana yang telah disusun sebelumnya dan sesuai dengan visi misi korporat. Untuk menghasilkan suatu event korporat yang berhasil, dibutuhkan manajemen event yang baik.

Objektif

  • Mengetahui dan memahami manajemen event korporat.
  • Peserta mampu merencanakan dan mengimplementasikan event korporat.

Outline Materi

  • Manajemen event
  • Bentuk dan karakteristik Event Korporat
  • Brand activation, PR Campaign, Event Marketing
  • Tahap-tahap Manajemen Event
  • Mendesain event kreatif dan penggalian tema
  • Menentukan tujuan dan target acara
  • Menganalisis khalayak event
  • Menyusun pesan dalam acara
  • Mengelola event yang efektif (Tim Kerja, Logistik Acara)
  • Mengefisienkan anggaran event
  • Teknik promosi dan publikasi event
  • Melakukan evaluasi acara

Metode Pelatihan

  • Presentasi, Case Study, Diskusi dan Dialog Informal

Durasi Pelatihan

Training ini akan dilaksanakan selama 2 hari (08.00 – 16.00 WIB).

Peserta

  • External Relations
  • Corporate Communication/ Humas
  • Stakeholder Relations
  • CSR/Comdev Officer

Facilitator

Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom
Ujang Rusdianto,S.I.Kom, M.IKom
Training-Best-Practice-Corporate-Event-Management-yogya